Image
oleh DISKOMINFO - INFORMATIKA

Tetap Sehat dan Bugar Selama Bulan Ramadhan

2018-05-22 09:10:19   |   Kategori iptek  |   Dibaca 541 kali

Ramadhan telah tiba, bulan penuh berkah yang dinanti-nanti kedatangannya setiap tahun. Setiap umat Muslim pastilah ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan ini selama sebulan penuh. Tentu saja dibutuhkan kekuatan dan kesehatan fisik dan mental yang kuat dalam menjalankan ibadah puasa ini. Bagi yang sehat diharapkan tidak ada kendala dalam menjalankannya. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang tidak dalam kondisi fisik yang cukup baik? Misalnya kelompok yang dinyatakan menderita penyakit kronik atau degenerative tertentu, ataupun karena bertambahnya usia.

Ada beberapa kelompok orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu yang barangkali harus mempertimbangkan beberapa hal agar dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan ini tanpa mengganggu kesehatan mereka. Sebut saja kelomok orang-orang dengan penyakit lambung atau yang sering disebut “sakit maag”, atau kelompok orang dengan penyakit kencing manis yang dalam istilah mediknya disebut diabetes mellitus, dan kelompok orang-orang dengan usia lanjut.

Pada kesempatan ini Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) belum lama ini (19 Agustus) di FKUI Jakarta telah mengadakan acara PAPDI Forum dimana kegiatan ini merupakan acara tahunan yang mengambil topik Tetap Sehat dan Bugar selama bulan Ramadhan.

Turut berbicara dalam acara tersebut, Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, MMB, Wakil Sekretaris Jenderal PB PAPDI, , Sekretaris Kolegium IPD, Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Dr. Dante Saksono, PhD, SpPD, Anggota PAPDI, Divisi Endokrinologi, Departemen Ilmu Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, DR.Dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, MEpid Penyakit Dalam FKUI/RSCM.

Pembicara pertama, Dr. Ari mengatakan, umumnya penderita maag ragu untuk berpuasa karena takut penyakitnya kambuh. Tapi ternyata puasa justru bisa menyembuhkan sakit maag seseorang.

Pada saat berpuasa seseorang tidak akan makan dan minum selama kurang lebih 14 jam, yang berarti selama waktu tersebut sistem pencernaan tubuh tidak akan menerima makanan dan minuman.

Sebuah penelitian di Paris yang melibatkan 13 sukarelawan melaksanakan puasa selama bulan Ramadan, ternyata terjadi peningkatan asam lambung pada minggu pertama puasa dan kembali normal setelah minggu kedua puasa. Dan puasa sendiri akan menurunkan kadar hormon gastrin dan menurunkan asam lambung.

Dr. Ari menambahkan dispepsia dibagi menjadi dua tipe yaitu dispepsia fungsional jika endoskopinya normal dan dispepsia organik jika endoskopinya tidak normal seperti ada peradangan, sariawan (tukak) pada lambung atau usus dua belas jari, lalu adanya tumor atau polip.

Biasanya ditandai dengan gejala rasa sakit atau perih di daerah ulu hati, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, sering bersendawa, nafsu makan menurun, nyeri atau panas dada dan mulut terasa pahit.

Dengan berpuasa sakit maag seseorang bisa sembuh, karena selama berpuasa seseorang akan: Makan dengan teratur setiap harinya saat sahur dan berbuka, Mengurangi mengkonsumsi camilan yang berlemak, Mengurangi rokok, Mengurangi minum kopi dan minuman bersoda, Lebih bisa mengendalikan diri dan Pola hidupnya lebih teratur.

“Selain itu, sebaiknya berbuka puasa dengan yang manis dan makanan yang ringan lalu shalat terlebih dahulu baru makan besar. Dengan puasa sebaik-baiknya maka maag pun bisa disembuhkan asalkan tetap menghindari makanan-makanan yang dapat memicu,” ujar Dr. Ari.

Hindari makanan berlemak, makanan yang mengandung gas (sawi, kol), makanan berserat tertentu, makanan yang merangsang pengeluaran asam lambung (kopi, alkohol, susu full krim), makanan yang sulit dicerna (keju), makanan yang dapat merusak dinding lambung (cuka, pedas).

Dengan pengaturan makan yang baik maka bisa memperbaiki sakit maag selama berpuasa. Umumnya sakit maag yang fungsional dapat menjalankan ibadah puasa sedangkan untuk sakit maag organik sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Diabetes Mellitus

Sementara itu Dr. Dante Saksono H, SpPD, PhD mengatakan, bahwa pasien diabetes mellitus menderita kekurangan jumlah dan atau kualitas insulin, sehingga kemampuan menyimpan sisa energi yang masuk menjadi berkurang. Bagi pasien DM yang gula darahnya terkontrol, cadangan energinya masih relatif cukup baik meskipun tidak senormal orang tanpa DM, sehingga tidak ada masalah bagi DM yang terkontrol.

Yang masalah yaitu pada pasien DM yang tidak terkontrol, karena cadangan energinya tidak mencukupi, sehingga akan terjadi pemecahan sumber energi lain seperti lemak awal yan mengandung risiko terjadinya komplikasi akut. Bila tidak berhati-hati dalam pengaturan obat bisa mengakibatkan kekurangan gula darah di sore hari.

Saat puasa, pasien DM akan menggunakan cadangan energi dari dalam berupa pembakaran lemak, produksi dari hati dan cadangan otot. Biasanya, kata Dante Saksono, pada awal puasa berat badan menurun dan kembali normal pada akhir bulan Ramadan.

Hal itu karena perubahan beban kerja sistem metabolisme energi, kekentalan darah berubah, akibat asupan cairan yang berkurang, penurunan gula darah puasa dan insulin serta perubahan metabolisme lemak. “Perlu penyesuaian dosis obat dan waktu pemberian insulin,” katanya.

Makanan yang perlu diperhatikan oleh penderita DM adalah mereka boleh mengonsumsi gula sebagai sumber kalori, tapi tidak boleh berlebihan. Usahakan makan sahur lambat dan segerakan berbuka serta banyak minum air pada saat berbuka.

Untuk itu, katanya, pasien perlu memeriksa kadar gula darah dua jam sesudah sahur. Bila gula darah berada di bawah 80, sebaiknya berhenti puasa dan begitu pula kalau gula darah sangat tinggi. Pengaturan porsi makan yaitu 40% dikonsumsi waktu makan sahur, 50% waktu berbuka dan 10% malam sesudah sholat tarawih.

Puasa pada Lansia

Pembicara terakhir Dr. Siti Setiati, mengatakan, seseorang yang menjalankan puasa akan berkurang asupan makanan sebesar 12% dari konsumsi sehari-hari. Dari berbagai hasil penelitian pada usia lanjut, katanya, puasa mempunyai pengaruh cukup baik. Satu hasil survei Poliklinik Geriatri RSCM pada Agustus 2008 terhadap pasien usia lanjut, ternyata tidak ada gangguan fungsi ginjal selama asupan cairan terpenuhi.

Asupan cairan usia lanjut selama puasa cukup 1,5-2 liter per hari. Namun perlu diwaspadai jika mereka memiliki gangguan kesehatan fisik dan psikologi yang akut seperti infeksi akut, gagal jantung, asma akut. Seorang usia lanjut yang menjalankan puasa perlu dipantau asupan makan dan minuman sejak berbuka puasa sampai saat sahur. Konsumsi cairan yang cukup yaitu sekitar 8-10 gelas diperlukan untuk menghindari kekurangan cairan. Untuk itu dianjurkan agar lebih banyak mengonsumsi air atau jus buah antara berbuka puasa dan sebelum tidur.

Lansia tidak dianjurkan mengonsumsi teh terlalu banyak pada sahur, karena teh dapat merangsang pengeluaran urin sehingga garam mineral yang dibutuhkan tubuh pada siang hari akan terbuang. “Yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan cairan,” kata Siti dalam simposium yang bertema Tetap Sehat dan Bugar Selama Bulan Ramadan belum lama ini.

Kebutuhan kalori berpuasa sama dengan saat tidak berpuasa. Dianjurkan untuk mengonsumsi jenis makanan yang lebih lama dicerna yaitu mengandung karbohidrat kompleks seperti nasi dan roti. Hindari terlalu banyak es, karena dapat menahan rasa kenyang. Mengonsumsi kurma juga dianjurkan karena buah ini mengandung gula, serat, karbohidrat, kalium, natrium, kalsium, fosfor, zat besi, dan magnesium. Saat berbuka puasa bagus mengonsumsi pisang karena mengandung sumber kalium, magnesium dan karbohidrat, cukup konsumsi vitamin dan mineral.